Indonesia Masuk 5 Besar Pengguna ChatGPT untuk Codex dan Analitik Data, tapi Ada Kesenjangan Besar

Indonesia Masuk 5 Besar Pengguna ChatGPT untuk Codex dan Analitik Data
Indonesia Masuk 5 Besar Pengguna ChatGPT untuk Codex dan Analitik Data. (Gambar: Dok. AdityaTekno)

AdityaTekno.com - Indonesia masuk lima besar dunia dalam penggunaan ChatGPT untuk Codex dan analitik data. Namun, capaian itu menyimpan persoalan, kemampuan pengguna AI tingkat lanjut masih terpaut jauh dari rata-rata pengguna di Tanah Air.

OpenAI menyebut pengguna AI tingkat lanjut di Indonesia telah berada di salah satu level tertinggi atau frontier di dunia. Kelompok ini memanfaatkan AI untuk tugas-tugas kompleks dan bernilai tinggi, sekaligus mampu menggunakannya untuk mendorong produktivitas secara drastis.

Masalahnya, pola tersebut belum menjadi gambaran mayoritas pengguna AI di Indonesia.

Data OpenAI menunjukkan 5 persen pengguna tingkat lanjut memakai token penalaran 11 kali lebih banyak dibanding rata-rata pengguna. Artinya, masih lebih banyak pengguna yang memanfaatkan AI untuk tugas relatif sederhana dan belum mengoptimalkan kemampuannya.

OpenAI menyebut kondisi itu sebagai "kesenjangan kapabilitas" (capability gap).

Kesenjangan tersebut diukur melalui sejumlah indikator, antara lain kedalaman penalaran yang digunakan, ragam tugas yang dikerjakan dengan bantuan AI, serta tingkat adopsi teknologi AI.

Menurut Sandy Kunvatanagarn, kelompok pengguna teratas di Indonesia telah memakai AI untuk berbagai kebutuhan, mulai dari coding, analisis data, riset, menulis, hingga perencanaan.

Karena itu, tantangan Indonesia bukan lagi sekadar memperbesar jumlah pengguna AI. Pemanfaatan AI tingkat lanjut juga perlu menjangkau lebih banyak masyarakat dan perusahaan.

"Tantangan sesungguhnya yaitu bagaimana kita memperluas jangkauan dari kelompok frontier ini ke seluruh lapisan masyarakat dan dunia bisnis lainnya, sehingga kita dapat membantu pertumbuhan ekonomi," kata Sandy Kunvatanagarn, dalam peluncuran laporan "Closing Indonesia’s AI Capability Gap" di Hotel Morrissey, Jakarta Pusat, Kamis (3/9/2026).

Baca Juga: AI Sudah Sepintar Ini? ChatGPT dan Gemini Tembus Ujian Kampus Top Jepang

Dua Cara Menutup Kesenjangan AI

Dalam kesempatan yang sama, OpenAI memaparkan dua komponen utama untuk menutup kesenjangan kapabilitas AI di Indonesia.

Pertama, memperluas akses terhadap teknologi AI. OpenAI menilai keterbatasan akses terhadap teknologi AI yang mumpuni, baik bagi pekerja maupun institusi, dapat menghambat peningkatan produktivitas yang ditawarkan teknologi tersebut.

Kedua, mendorong penggunaan AI tingkat lanjut dengan membekali masyarakat dengan keterampilan dan kapasitas untuk menerapkannya pada pekerjaan yang kompleks, bernilai tinggi, dan memberikan dampak besar.

OpenAI menilai aksesibilitas menjadi salah satu pembeda AI dibanding teknologi serbaguna sebelumnya.

Teknologi terdahulu membutuhkan investasi awal yang besar dan pelatihan formal. Sementara itu, AI hadir dengan antarmuka berbasis bahasa alami yang dapat diakses secara gratis atau dengan biaya relatif rendah.

Dengan kondisi tersebut, OpenAI menilai manfaat produktivitas dari AI tingkat frontier berpotensi dijangkau hampir setiap pekerja yang memiliki smartphone.

Pemanfaatannya juga dapat diterapkan pada beragam jenis pekerjaan, mulai dari penyusunan kontrak hingga pemetaan harga pasar.

Artikel terkait: